082118192018 / 082120081007 ryanhendriansyah128@gmail.com

Kewirausahaan semakin mencuat ke permukaan pada abad 18 diawali dengan penemuan-penemuan baru seperti halnya mesin uap, mesin pemintal, dan lain-lain. Tujuan utama mereka menemukan mesin-mesin industri tersebut tidak lain adalah pertumbuhan dan perluasan organisasi melalui inovasi dan kreativitas. Keuntungan dan kekayaan pada saat itu bukan tujuan utama.

 

Secara sederhana arti dari wirausahawan (entrepreneur) adalah orang yang berjiwa berani dalam mengambil resiko untuk membuka usaha dalam berbagai kesempatan yang ia mliki. Berjiwa berani mengambil resiko berarti di sini bermental mandiri dan berani memulai suatu usaha, tanpa diliputi rasa takut atau cemas sekalipun dalam kondisi yang tidak pasti.

 

Pengertian kewirausahaan relatif berbeda-beda antar para ahli atau sumber acuan dengan titik berat perhatian atau penekanan yang berbeda-beda, diantaranya adalah penciptaan organisasi baru (Gartner, 1988), menjalankan kombinasi (kegiatan) yang baru (Schumpeter, 1934), ekplorasi berbagai peluang (Kirzner, 1973), menghadapi ketidakpastian (Knight, 1921), dan mendapatkan secara bersama faktor-faktor produksi (Say, 1803).

 

Salah satu kesimpulan yang dapat kita ditarik dari berbagai pengertian terkait kewirausahaan tersebut adalah bahwa kewirausahaan dipandang atau dianggap sebagai fungsi yang mencakup eksploitasi peluang-peluang yang muncul di pasar. Eksploitasi tersebut sebagian besar berhubungan dengan pengarahan dan atau kombinasi input yang produktif yang berarti disini adalah lebih ditekankan pada proses dalam menghasilkan sesuatu barang atau komoditi. Seorang wirausahawan selalu diharuskan menghadapi resiko atau peluang yang muncul, serta sering dikaitkan dengan tindakan yang kreatif dan inovatif. Wirausahawan adalah orang yang merubah nilai sumber daya, tenaga kerja, bahan dan faktor produksi lainnya menjadi lebih besar daripada sebelumnya dan juga orang yang melakukan perubahan, inovasi, dan cara-cara baru dalam usahanya. Kewirausahaan juga dapat diartikan sebagai orang yang melakukan kegiatan mengorganisasi faktor-faktor produksi dan memberikan hasil yang produktif bagi masyarakat secara luas.

 

Mengutip kisah Sejuta Hikmah yang ditulis dalam sebuah buku yang berjudul “Islam dan  Kewirausahaan Inovatif”, di dalam buku tersebut dikemukakan bahwa Imam Musa bin Ja’far al-Khadim tengah membajak dan mengelola tanahnya. Tetesan keringatnya membasahi tubuhnya. Ketika itu Ali bin Hamzah al-Bathaini datang, kemudian bertanya: “Wahai Imam! Kenapa Anda tidak menyuruh orang lain saja untuk mengerjakan ini?”. Lalu Imam Musa bin Ja’far menjawab: “Kenapa aku harus menyuruh orang lain? Orang-orang yang lebih agung dari aku pun sering melakukan kerja yang serupa.” “Siapakah gerangan mereka?” tanya Al-Bathaini. “Rasulullah, Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib, dan semua ayah, serta datuk-datuk ku. Sebenarnya kerja bertani dan mengolah tanah adalah sunah para Nabi, wasiat Nabi, dan orang-orang shaleh.”

 

Kisah di atas menunjukkan betapa kuatnya etos kerja Imam Musa bin Ja’far al-Khadim sebagai seorang entrepreneur(pengusaha) yang patut kita contoh di bidang pertanian pada waktu itu. Selain itu yang paling utama untuk kita contoh adalah teladan dari Rasulullah SAW sebagai Rasul yang sejak kecil telah mengasah dirinya ketika beliau masih berusai 12 tahun yang telah dididik oleh pamannya, yaitu Abu Thalib, untuk berbisnis. Hingga mencapai puncak karirnya ketika ia telah menjadi kepercayaan dari Siti Khadijah yang menjadi pebisnis andal, hingga akhirnya Nabi Muhammad SAW menikah dengan Siti Khadijah. Rasulullah SAW telah meninggalkan begitu banyak hadits dalam praktik bisnis sehingga dapatlah dikatakan bahwa beliau telah mewariskan kearifan bisnisnya kepada segenap kaum muslimin. Bisnis bukanlah tujuan akhir, tetapi merupakan pintu rezeki yang patut kita berikhtiardi dalam berwirausaha. Bisnis yang baik adalah bisnis yang bertujuan sukses tidak hanya di kehdupan dunia saja tetapi juga di akhirat. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda yang artinya:

 

“Barang siapa yang menjadikan dunia ini sebagai satu-satunya tujuan akhir (yang utama), niscaya Allah akan menyibukkan ia dengan (urusan dunia itu),  Allah pun akan membuatnya miskin seketika, dan ia akan tercatat (ditakdirkan) merana di dunia ini. Namun, barang siapa yang menjadikan akhirat sebagai tujuan akhirnya, Allah akan mengumpulkan teman-teman untuknya, Allah akan membuat hatinya kaya, dan dunia akan takluk menyerah padanya.” (H.R Ibnu Majjah dan Tirmidzi).

 

Dari arti hadits di atas menunjukkan bahwasannya apabila kita dalam berwirausaha berorientasi hanya untuk dunia saja dan tidak untuk akhirat,maka Allah akan membuatnya lalai akan kehidupan akhirat dan menyibukkannya hanya kepada urusan-urusan dunia saja. Namun apabila kita berwirausaha disertai dengan tujuan untuk akhirat juga, maka Allah SWT akan memudahkan jalan kita di dunia, bahkan Allah akan membuat dunia ini tunduk terhadap orang yang demikian. Oleh karena itu hendaknya dalam berwirausaha kita selingi juga dengan nilai-nilai keagamaan seperti halnya bersedekah, infaq, membantu satu sama lainnya, dan masih banyak lagi nilai-nilai kegamaan yang bisa kita selingi dengan berwirausaha (entrepreneurship).

 

Begitupula Allah SWT telah memberikan seruan kepada umat Islam untuk bekerja keras tidak hanya untuk tujuan dunia tetapi juga akhirat, diantara firman-Nya yaitu:

 

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

 

Artinya: Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (Q.S. Al-Qashash ayat 77).

 

Setidaknya dari ayat di atas dapat kita simpulkan bahwasannya kita dalam mencari rezeki hendaknya tidak melupakan akhirat dengan tetap melaksanakan shalat, infaq, shadaqah, dan lain sebagainya yang berhubungan atau berorientasi pada akhirat. Dalam ayat di atas kita juga tidak diperbolehkan dalam berwirasusaha merusak berbagai macam sumber daya yang ada di bumi dan kita harus tetap menjaganya, kita boleh mengambil kekayaan alam secukupnya saja dan tidak untuk dieksploitasi secara besar-besaran.

 

Allah SWT juga berfirman terkait dengan berwirausaha dengan orientasi menyeimbangkan antara kehidupan dunia dan akhirat, yaitu:

 

رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ۙ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ

 

لِيَجْزِيَهُمُ اللَّهُ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ ۗ وَاللَّهُ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ

 

Artinya: Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. (Meraka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberikan balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas. (Q.S. An-Nur ayat 37-38).

 

Dari ayat di atas apabila kita dalam berwirausaha tidak lalai dengan urusan akhirat dan tetap mendirikan shalat serta tidak lupa dalam membayar zakat, maka niscaya Allah akan menambah karunia kita di dunia ini, baik berupa rezeki, kebahagiaan, dan lain sebagainya. Serta Allah SWT akan membalas kita dengan balasan yang lebih dari yang kita lakukan tersebut baik di akhirat (berupa surga) maupun di dunia (berupa rezeki, kebahagiaan, kecerdasan, dan lain-lain). Oleh karena itu kunci dalam menaklukkan kehidupan dunia terletak pada kemampuan kita dalam menguasai akhirat juga, jika kita mampu menguasai ilmu-ilmu akhirat maka dunia akan mengikuti di belakangnya. Jangan pernah khawatir akan hal tersebut karena Allah SWT sendiri yang menjanjikannya.

 

Terdapat juga dari berwirausaha keutamaan-keutamaan di dalamnya seperti yang disabdakan oleh Nabi Muhammad, yaitu:

 

عليكم بالتجارة فإن فيها تسعة أعشار الرزقة

 

Artinya: Hendaklah kamu berdagang karena di dalamnya terdapat 90 persen pintu rezeki.” (H.R. Ahmad).

 

Dari hadits di atas kita dapat menyimpulkan bahwasannya berwirausaha atau berdagang merupakan 90 persen dari kunci rezeki kita, hal tersebut dapat kita lakukan jika kita bersungguh-sungguh dalam melakukan wirausaha tersebut dengan tetap mengingat Allah di dalamnya, sehingga nantinya dari hal-hal tersebut Allah akan membuka pintu rezeki kita. Berwirausaha merupakan tuntunan dari Nabi Muhammad SAW, oleh karena itu tentu saja terdapat beberapa keistimewaan di dalamnya termasuk sebagai pembuka utama dalam rezeki kita, oleh karena itu kita harus bersungguh-sungguh dalam berwirausaha untuk kehidupan dunia dan tetap melakukan ibadah-ibadah spiritual guna kehidupan akhirat kita kelak.

 

Dasar-dasar dalam berdagang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad sebagai panutan kita umat Muslim, dan jika kita telusuri sebenarnya nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad SAW juga menerapkan bibit-bibit kewirausahaan dalam kehidupannya, hal ini sesuai dengan hadits Nabi Muhammad SAW yaitu:

 

عَنِ المِقْدَامِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ، خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ، وَإِنَّ نَبِيَّ اللَّهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ، كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ(يَدِهِ» (رَوَاهُ الْبُخَارِى

 

Artinya: “Dari Miqdam R.A. dari Rasulullah SAW bersabda: tidaklah seseorang makan makanan yang lebih baik daripada makan hasil kerjanya sendiri dan sesungguhnya Nabi Daud AS makan dari hasil buah tangan (pekerjaannya) sendiri.” (H.R. Al-Bukhari).

 

Dari hadits di atas Nabi Muhammad SAW bersabda bahwasannya makanan yang baik adalah makanan yang kita peroleh dari hasil jerih payah kita sendiri, hal ini dikarenakan rasa kepuasan kita akan bertambah ketika kita makan dari hasil jerih payah kita sendiri. Hal tersebut juga membuat kita menjadi rendah hati dan senantiasa bersyukur atas nikmat Allah SWT yang diberikan kepada kita. Hal seperti ini bahkan telah dilakukan oleh para nabi sebelum Nabi Muhammad SAW, seperti halnya Nabi Daud AS yang juga makan dari hasil jerih payah beliau sendiri, dari hadits di atas juga menjadi landasan utama kita sebagai umat Islam untuk melakukan wirausaha di dalam kehidupan kita.

 

Perlu kita ketahui bahwasannya terdapat banyak nilai-nilai sosial keagamaan yang dapat kita raih dari berwirausaha, diantaranya adalah saling membantu dengan seksama, mmperoleh laba, dan merupakan ibadah. Sebagai seorang wirausahawan nantinya kita sebagai umat Muslim di Indonesia harus peka terhadap realita yang ada di masyarakat, pada saat ini jika kita melihat sekeliling lingkungan kita saja tanpa harus melihat Indonesia secara keseluruhan maka kita akan menemukan dari hal-hal tersebut masih banyak masyarakat kita yang sebenarnya berada dalam usia produktif justru tidak bekerja, hal ini tentu menimbulkan kepiluan tersendiri bagi kita. Disinilah nantinya peran wirausahawan dapat membantu perekonomian Indonesia sekaligus sebagai sarana ibadah kepada Allah SWT.

 

Hal tersebut dikarenakan jika kita membuka suatu bisnis atau toko hendaklah kita merintis dan mengembangkan terlebih dahulu, sehingga nantinya toko atau perusahaan kita menjadi semakin besar dan di saat inilah kita mulai merekrut banyak tenaga kerja di sekitar kita yang masih belum terserap secara maksimal untuk kita pekerjakan. Maka sudah barang tentu hal tersebut akan memicu produktifitas kita dan sekaligus merupakan suatu nilai ibadah bagi kita di sisi Allah SWT dengan membantu orang-orang di sekitar kita memperoleh pekerjaan dan sekaligus juga bernilai sedekah jika kita ikhlas memberikan gaji atau upah kepada mereka dengan tepat waktu dan tidak menunda-nunda.

 

Terdapat beberapa sifat yang harus dimiliki oleh seorang wirausahawan Muslim yang sesuai dengan ajaran agama Islam, yaitu:

 

  1. Sifat Takwa, Tawakkal, Zikir, dan Syukur

 

Sifat ini harus dimiliki oleh wirausahawan karena dengan sifat-sifat itu kita akan diberi kemudahan dalam menjalankan setiap usaha yang kita lakukan. Dengan adanya sifat takwa maka kita akan diberi jalan keluar penyelesaian dari suatu masalah dan mendapat rezeki yang tidak disangka-sangka. Dengan sikap tawakkal, kita akan mengalami kemudahan dalam menjalankan usaha walaupun usaha yang kita jalani memiliki banyak saingan. Dengan bertakwa dan bertawakkal maka kita akan senantiasa berzikir untuk mengingat Allah dan bersyukursebagai ungkapan terima kasih atas segala karunia dan kemudahan yang kita terima. Dengan demikian, maka kita akan merasakan tenang dan melaksanakan segala usaha dengan kepala dingin dan tidak dengan terburu-buru.

 

  1. Jujur

 

Dalam suatu hadits tentang kejujuran ini, Rasulullah SAW pernah meriwayatkan terkait pentingnya kejujuran ini, bahwa:

 

إِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِيْنَة، وَالْكَذِبَ رِيْبَة

 

Artinya:”Kejujuran akan membawa ketenangan dan ketidakjujuran akan menimbulkan keragu-raguan.”(H.R. Tirmidzi). Dengan kita berkata jujur dalam segala kegiatan yang berhubungan dengan orang lain, maka akan membuat hidup kita menjadi tenang lahir dan batin.

 

  1. Niat Suci dan Ibadah

 

Bagi seorang muslim kegiatan bisnis atau berwirausaha senantiasa diniatkan untuk beribadah kepada Allah SWT sehingga hasil yang didapat nanti juga akan digunakan untuk kepentingan dijalan Allah SWT.

 

  1. Bangun Lebih Pagi

 

Rasulullah SAW mengajarkan agar kita berusaha mencari rezeki mulai pagi hari setelah shalat Subuh. Dalam sebuah hadist disebutkan bahwa: ”Hai anakku, bangunlah! Sambutlah rezeki dari Rabb-mu dan janganlah kamu tergolong orang yang lalai, karena sesungguhnya Allah membagikan rezeki manusia antara terbitnya fajar sampai menjelang terbitnya matahari.” (H.R. Baihaqi).

 

  1. Toleransi

 

Sikap toleransi diperlukan dalam bisnis dan berwirausaha, sehingga kita dapat menjadi pribadi pebisnis yang mudah bergaul, fleksibel, dan toleransi terhadap langganan walaupun tidak seagama atau tidak satu kepercayaan serta tidak kaku.

 

  1. Berzakat dan Berinfak

 

Rasulullah SAW dalam sabdanya mengatakan bahwasannya tidak akan berkurang harta seorang Muslim yang dipergunakan dalam sedekah dan infaq, yaitu

 

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ

 

Artinya: “Tidaklah harta itu akan berkurang karena disedekahkan dan Allah tidak akan akan menambahkan orang yang suka memberi maaf kecuali kemuliaan. Dan tidaklah seorang yang suka merendahkan diri karena Allah melainkan Allah akan meninggikan derajatnya.” (H.R. Muslim).

 

Dalam hadits tersebut telah diungkapkan bahwa dengan berzakat dan berinfaqmaka kita tidak akan menjadi miskin, melainkan Allah SWT akan melipat gandakan rezeki kita. Dengan berzakat, hal itu juga akan membersihkan harta kita sehingga harta yang kita peroleh memang benar-benar harta yang halal dan bersih dari segala unsur kekurangannya.

 

  1. Silaturahmi

 

Dalam usaha, adanya seorang partner atau teman sangat dibutuhkan demi lancarnya usaha yang kita lakukan. Silaturahmi ini dapat mempererat ikatan kekeluargaan dan memberikan peluang-peluang bisnis baru. Pentingnya silaturahmi ini juga dapat dilihat dari hadist berikut:

 

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ أَوْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

 

Artinya: ”Siapa yang ingin murah rezekinya dan panjang umurnya, maka hendaklah ia mempererat hubungan silaturahmi.”(H.R. Bukhari).

 

Jangan sampai kita sebagai seorang wirausahawan Muslim tidak dapat membedakan antara barang yang halal dan haram, karena jika hal tersebut sampai terjadi maka akan hilang keberkahan dari hasil kerja kita tersebut. Oleh karena itu terlebih-lebih di zaman modern seperti ini kita sebagai umat Muslim dan sekaligus pengusaha Muslim harus selektif dalam menghasilkan produk atau barang tertentu maupun dalam menjual suatu barang tertentu, kita seharusnya mengetahui secara pasti sedalam-dalamnya terkait dengan barang yang kita buat atau yang kita jual, sehingga nantinya menjadi jelas antara kehalalan atau keharaman dari barang tersebut. Hal ini juga sesuai dengan yang diriwayatkan oleh Rasulullah SAW dalam salah satu haditsnya, yaitu:

 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «يَأْتِي عَلَى النَّاسِ(زَمَانٌ، لاَ يُبَالِي المَرْءُ مَا أَخَذَ مِنْهُ، أَمِنَ الحَلاَلِ أَمْ مِنَ الحَرَامِ»(رَوَاهُ الْبُخَارِى

 

Artinya: “Dari Abu Hurairah RA, dari Nabi SAW bersabda: akan datang kepada manusia suatu zaman di mana mereka tidak peduli terhadap apa yang diperolehnya apakah berasal dari sesuatu yang halal atau haram.” (H.R. Bukhari).

 

Sebagai penjelasan bahwasannya hadits di atas merupakan gambaran akan umat Islam atau umat manusia yang nantinya tidak akan peduli lagi dengan hasil yang mereka dapatkan, baik berasal dari yang halal atau yang haram, yang terpenting bagi mereka adalah mereka mampu memperoleh hasil dari usahanya yang berupa uang. Jika kita korelasikan dengan kenyataan pada saat ini bahwasannya sudah banyak dari manusia baik berasal umat Islam maupun tidak yang melakukan hal demikian, oleh karena itu kita harus berhati-hati dalam melangkah.

 

Semoga kita dapat menjadi seorang wirausahawan Muslim yang mampu mengangkat perekonomian di sekitar lingkungan kita dengan membantu sesama kita sebagai sesama manusia dan menjadi seorang wirausahawan yang bertakwa kepada Allah SWT, sehingga nantinya tidak akan berorientasi pada dunia saja namun juga harus diiringi dengan ibadah kepada Allah SWT.

 

Ditulis oleh: Abdul Hakim

Kelas: ES4

Jurusan: Ekonomi Syariah

Fakultas: Ekonomi dan Bisnis Islam

IAIN Jember.